
Tsunami yang terlihat sebagai monster paling menakutkan ternyata bisa di deteksi hanya dari gejala alam pasca gempa. Tanda-tanda ini didapatkan dari hasil penelitian yang dikumpulkan para ilmuan yang berasal dari negara-negara rawan tsunami layaknya Jepang. Petunjuk yang banyak didapatkan ternyata berasal dari dokumen lama dan prasasti yang ada di Jepang.
Beberapa pertanda yang dapat mengabarkan adanya gelombang tsunami memang berasal dari gejala alam yang ditimbulkan oleh pergerakan gelombang air laut dan juga getaran yang berasal dari sumber gempa. Tanda-tanda itu dapat berupa pergerakan tanah, riakan air laut yang biasa disebut tsunami forerunners, tarik surutnya permukaan air laut, dinding muka air di tengah laut, timbulnya suara abnormal serta keanehan-keanehan yang dapat dirasakan oleh penglihatan visual, pendengaran dan penciuman.
Yang dikatakan pergerakan tanah adalah perjalanan gelombang pada lapisan padat bumi akibat gempa. Inilah yang pada awalnya mengguncang sutu daerah hingga akhirnya dapat memicu terjadinya tsunami. Tsunami forerunners merupakan deretan riak muka air laut yang mendahului gelombang tsunami yang lebih besar. Nah jika tsunami forerunners sudah mencapai bibir pantai, berhati-hatilah karena raksasa air akan segera menghampirimu.
Namun tsunami forerunners yang menjadi pertanda kedatangan tsunami tidak selamanya muncul. Banyak hal yang dapat mempengaruhi munculnya tsunami forerunners ini. Penyebabnya antara lain kemiringan alami dan inisial tsunami terhadap bentuk pantai. Karena itulah, tsunami forerunners sangat jarang muncul di pantai utara dan selatan benua Amerika karena dipengaruhi faktor-faktor yang tidak jelas. Kehadiran tsunami forerunners di beberapa tempat seperti di Jepang sebenarnya didukung oleh aktivitas resonansi berupa gelombang ikutan tsunami awal di teluk dan paparan benua sebelum tsunami utama mencapai pantai.
Tsunami bore yang biasa disebut dinding muka air laut akan terlihat berbeda ergantung dari bentuk sendimen dan kekasaran dasar laut. Unutk daerah landai yang sendimennya dapat tersapu gelombang, maka dinding air akan terlihat berwarna gelap. Sebaliknya, jika sendimennya dipenuhi karang dan kedalaman lebih, dinding airnya akan berwarna putih dan didominasi busa yang disebabkan reaksi garam pada air laut.
Jepang sebagai negara yang sering dilanda tsunami telah menyimpan kisah dari masa-ke masa tentang peristiwa tsunami. Gelombang tsunami akan datang setelah beberapa orang mendengar suara-suara aneh dari arah pantai. Hal ini juga terlukis dalam Monumen Tsunami di Prefektur Aomori yang berbunyi “Gempa, suara menderu, kemudian tsunami” yang berarti, jika mendengar suara abnormal dari arah pantai setelah terjadinya gempa yang berpotensi menyebabkan tsunami, alangkah baiknya jika evakuasi segera dilakukan.
Beberapa saksi mata juga telah menerangkan hal ini. Mereka mendeskripsikan suara itu seperti suara baling-baling helikopter, desingan roket, atau bahkan suara iringan drum band. Walaupun terdengar lucu, namun pendengaran seperti ini sepatutnya diwaspadai. Jangan sampai saat mendengar suara drum band setelah terjadinya gempa, kita hanya mengabari orang lain bahwasanya hiburan telah datang. Jika ini kita lakukan, maka raksasa itu akan semakin dekat dan melahap apa yang ada di hadapannya.
Sebenarnya suara-suara seperti ini disebabkan oleh hantaman gelombang yang mengenai bibir pantai yang curam atau landai, sehingga bentuk bunyi yang dihasilkan juga berbeda. Pertanda lainnya hembusan angin dengan hawa yang lebih dingin dari arah pantai serta bau garam yang mnyengat. Kemungkinan besar aliran angin ini disebabkan oleh tolakan air laut di daerah lepas pantai.
jadi, jika terjadi gempa besar, perhatikan tanda-tandanya, lalu evakuasi diri dan keluarga. Dedet Pratama Dinata (kapanlagi.com)
DIarsipkan di bawah: tips
gimana terjadinya gempa di bengkulu daerah muko-muko ?