PBM SMAN 8 Lancar

Rabu, 30 Januari 2008
Padang, Padek–Pascademo siswa SMA 8 Padang beberapa waktu lalu, suasana belajar di kompleks sekolah ini terlihat tenang. Sepertinya tidak pernah ada tanda-tanda gejolak apapun  yang menimpa sekolah ini. Ketika Padang Ekspres berkunjung ke sekolah ini kemarin terlihat kegiatan belajar mengajar berlangsung aman dan tenang.

Saat baru sampai di sekolah ini beberapa siswa tengah serius mengikuti pelajaran yang disuguhkan gurunya. Di kelas tiga lainnya juga terlihat siswa yang tampak tegang dalam diskusi pelajarannya. Ada pula kelas yang siswanya bercengkrama satu sama lain dengan gembiranya. Di kelas itu sedang tidak ada guru yang mengajarnya. Pada suatu kesempatan Padang Ekspres bertemu dengan salah seorang siswa kelas 3 (XII),  Dedet.

Ia mengatakan untuk sekarang ini siswa kelas tiga sedang tenang-tenang saja. Karena sehari sebelumnya (Senin, 28/1) telah mendapat pengarahan dari walikelas bahwa untuk biaya belajar sore tidak dipungut biaya. Sehingga Dedet dan temannya yang lain mendapat ketenangan sementara waktu.

Kepala SMA 8 Padang Janawir mengaku senang karena tidak ada lagi gejolak yang terjadi di kalangan siswa.  Ia mengatakan sekolah bersama komite sekolah telah berhasil mencapai kata sepakat untuk meniadakan biaya belajar sore untuk siswa kelas III. Keputusan ini tercapai setelah rapat yang juga disaksikan Camat Koto Tangah. Sehingga dengan cepat sekolah dan komite memberitahukan kabar hasil rapat kepada siswa dan wali kelas.

“Untuk siswa informasi ini diberitahukan melalui pesan singkat (SMS). Seterusnya informasi ini dilengkapi oleh wali kelas di ruang belajar kemarin (Senin 28/1, red). Siswa diberi pemahaman terhadap hal yang sedang dialami sekolah. Terutama dalam hal untuk memajukan fasilitas fisik sekolah dan kemampuan intelektual siswa. Memberikan pembelajaran yang lebih membutuhkan biaya ekstra. Namun tidak disetujui siswa maka sekolah berupaya menghindari hal ini dan memberikan penjelasan,” ujarnya.

Pada tahun ini SMA 8 juga tidak akan melanjutkan pembangunan fisik, karena yang dianggarkan untuk itu tinggi. Sehingga membutuhkan bantuan dari pusat. Belajar dari peristiwa beberapa waktu lalu, Janiwar tidak akan meneruskan programnya ini. “Ini pengalaman yang berharga sekali sejak saya memimpin SMA 8 sejak 8 bulan lalu,” jelasnya. (padek)

Tinggalkan Balasan