Anak Gaul, Tapi Tahu Waktu

Oleh: Yus Eriza

Waktu, menurut etimologi adalah saat, masa, jadwal, jarak satu masa ke masa yang lain, dan mungkin masih banyak sinomimnya. Tapi yang pokok dalam perbincangan kita ini bukan pada pengertian waktu dilihat dari sisi etimologi atau arti menurut kebahasaannya melainkan dari pengertian kepentingan waktu untuk kehidupan manusia.

Tak bisa kita raba fisiknya , seperti apakah waktu lantaran dia adalah sesuatu yang tidak teraba, tetapi hanya dapat dirasakan. Jika waktu adalah jarak terpendek pergitungan lamanya suatu proses, maka waktu dapat kita rasakan dengan melihat jam. Ada hitungan detik, menit dan jam yang secara matematis merupakan kelipatan-kelipatan satuan. Setiap satu menit maka terdapat enam puluh getaran detik, setiap enam puluh menit menghasilkan putaran satu jam.

Waktu untuk yang lebih lama dari hitungan jam dapat kita rasakan saat membalik kalender. Setiap 24 kali putaran jarum pendek arloji akan menghasilkan satu kali matahari terbenam dan satu kali mata hari terbit, satu kali siang satu kali malam. Setiap perubahan itu juga mengubah tanggal di kalender kita. Hari ini tanggal 18 Maret 2008 misalnya, maka setelah 24 kali jarum pendek arloji berputar, tanggal di kalender itu otomatis berganti ke tanggal 19 Maret 2008.

24 kali jarum pendek arloji kita berputar selama tujuh kali pergantian siang dan malam menghasilkan rentangan waktu yang biasa kita sebut sepekan atau seminggu. Empat kali minggu akan mengubah nama bulan di kalender kita dari Maret ke April dan selanjutnya. Makin lama makin besar, setelah 12 bulan maka genaplah satu tahun yang ekuivalen dengan sekitar 360 hari.

Waktu berjalan amat pelan dan menjemukan sekali bila tak diisi dengan hal-hal berguna. Sekali waktu mari simak putaran jarum di arloji. Sambil naik angkot dari Air Tawar menuju kampus SMA 8 di Kayu Kalek Km 18 Koto Tangah ini, perhatikan betapa menjemukan melihat jarum detik jam tangan kita. Ia berputar begitu pelan tapi teratur. Dan itu dapat kita lihat ia bergerak mengelilingi sumbu sentrifugalnya (masih ingat berapa derajat ia berputar pada sumbuhnya secara penuh?) dengan mata telanjang. Tapi mungkin dengan menggunakan kaca pembesar saja, dapat melihat pergerakan jarum panjang arloji itu. Bahkan kalau dengan mata telanjang dia nyaris tak terlihat bergerak. Padahal ia bergerak! Dan kita pasti makin ngedumel melihat betapa ‘malas’nya si jarum pendek. Dalam hati kita mendongkol, jangan-jangan si pendek ini tak beringsut seperti si jarum panjang yang hanya bisa diintip pergerakannya dengan kaca pembesar.

Tapi ketika angkot gaul yang loudspeakernya menyentak-nyentak gendang telinga dengan musik heavy metal yang syairnya hanya sipenyanyinya yang tahu, sampai di Simpang Kayu Kalek, tak terasa mata kita tertumpu pada posisi jarum panjang yang sudah berubah. Tadi pada angka 12 kini sudah bergerak ke angka 5.

Apa sesungguhnya yang terjadi?

Kita telah ‘dibawa’ waktu selama kurang lebih 20 menit. Suasana jemu karena tidak ada yang kita kerjakan selain mendengar musik cadas dan memelototi piring arloji telah membuat waktu merangkak demikian pelannya. Dan kita hampir-hampir mengkal melihat jarum panjang yang bergerak jauh lebih pelan dari keong. Begitu juga si ‘malas’ jarum pendek. Tapi rupanya jarum panjang dan jarum pendek konsisten sekali. Mereka adalah pihak yang amat disiplin. Ada atau tidak angkot gaul, pakai lagu Peterpan atau tidak angkotnya, mobil itu ceper atau tidak, ia tak peduli. Pada saat ia harus sampai di angka 5, ia tetap sampai. Bahkan jarum panjang, jarum pendek dan jarum detik tak peduli apakah hari hujan, PR Matematika belum dibuat, SPP belum bayar, nyokap dan bokap sudah beri uang jajan atau belum, ada gempa, rumah kebanjiran dan sebagainya. Yang pasti mereka terus berputar, tak ada yang bisa dan berani mengeremnya barang sedetikpun. Tapi juga tidak ada yang sanggup mempercepat lajunya (kecuali jam tangan itu dipreteli) berputar di sumbu sentrifugal.

Kalender ukuran sedang tergantung di diding kelas salah satu ruang kelas di SMA 8 Padang. Selasa 1 April 2008 pagi saat mulai belajar, halaman depan kalender itu dicopot oleh seorang siswa. Tak ada yang berani menghentikannya, termasuk guru yang sudah berada di depan kelas untuk memulai pelajaran. Yang dicopot adalah halaman depan kalender yang memuat bulan Maret. Hari itu harus dicopot lantaran Maret sudah berlalu, sekarang sudah 1 April. Artinya sudah 31 kali terjadi pergantian siang dan malam dan sudah 744 kali jarum panjang arloji berputar di sumbuhnya.

Tak berselang lama setelah itu, seorang siswi kelas II dihujani cipika-cipiki oleh teman-temannya sesama siswa. Apa pasal? Ia ulang tahun. Padahal rasanya baru ‘kemarin’ ia menerima kado-kado ulang tahun dari teman-temannya, kini sudah berulang tahun pula. Sudah bertambah pula usianya. Alangkah tak terasanya waktu berlalu. Padahal seperti riwayat jarum panjang dan jarum pendek di atas angkot tadi, kenyataannya waktu bersingut-ingsut seperti keong.

Sekarang mari kita merenung sejenak. Apa sesungguhnya yang membuat waktu kadang terasa pelan tapi kadang tak terasa sudah berlari secepat pesawat superjet Airbus A320?

Sesungguhnya waktu adalah keajaiban dan ia adalah rahasia Illahi. Ia berjelan sekehendak Yang Maha Kuasa. Tak bisa diatur-atur kecepatannya oleh manusia. Manusia hanya bisa mengikuti waktu. Tak bisa menyamai dan mendahuluinya.

Allah bahkan banyak sekali mengungkapkan perihal waktu dalam Al Quran. Bacalah surat Al ‘Ashr, Allah berfirman: Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam merugi…

Para filsuf pun menyebut bahwa waktu adalah penting. Pepatah Inggris bebunyi: Time is Money.  Islam pun mengajarkan bahwa waktu itu ibarat pedang, jika dipergunakan kita akan menang, jika tidak digunakan, waktu akan menebas kita.

Seperti cerita di atas, waktu yang tak bisa kita kendalikan itu akan menjadi amat cepat berlalu jika ia diisi dengan hal-hal yang menghasilkan atau hal-hal yang produktif. Petani akan merasa perjalanan waktu begitu pelan apabila setelah bertanam ia hanya duduk diam menanti musim panen tanpa mencoba mengisi waktunya yang tersisa dengan hal-hal yang produktif lainnya. Seorang nelayan akan merasa jemu hanya duduk di pinggir pantai memegang joran pancingnya sampai umpannya dimakan ikan.

Tapi seorang yang senantiasa bisa mengatur kehidupannya dengan baik, niscaya akan merasakan manfaatnya dapat menggunakan waktu sebaik-baiknya. Lihatlah ketika kita tak terasa sudah sampai di pengujung tahun pelajaran. Yang kelas I dan II sudah harus bersiap naik ke kelas yang lebih tinggi. Sementara yang kelas III tak terasa harus menghadapi kenyataan bahwa sudah tiga tahun ‘berusaha’ mengiringi sang waktu menimba ilmu di SMA 8. Dan tiba saatnya sekarang berhitung dengan sang waktu, apakah selama tiga tahun itu sudah digunakan dengan hal-hal produktif atau hanya ‘sekolah orang sekolah kita’ atau sekedar berhura-hura ke Kayu Kalek?

Waktu  tiga tahun ternyata sudah berlalu. Ada yang senantiasa terus mengiringi waktu, maka merekalah yang merasakan betapa cepatnya waktu berlalu. Mereka yang bisa mengiringi waktu dengan mengisinya bersama rangkaian kegiatan belajar yang tak putus-putus, seakan waktu tiga tahun nyaris tak cukup. Terlalu pendek masa enam semester di SMA 8 untuk bisa menguasai banyak ilmu untuk bekal hidup maupun bekal melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Seperti janji Allah, mereka yang seperti itulah yang tidak masuk dalam kategori ‘yang merugi’. Artinya mereka telah mengisi waktu dan mempergunakannya sebaik-baiknya selama tiga tahun. Insya Allah, tentu ada manfaatnya.

Tetapi mereka yang tak menggunakan waktu sebagaimana mestinya selama tiga tahun ini, maka ketika kenyataan bahwa Ujian Nasional (UN) sudah di depan mata, hanya air matalah yang jadi taruhannya jika UN itu menemui kegagalan. Sia-sia membuang masa selama tiga tahun di kampus Kayu Kalek. Kalau tak ada yang mengeluarkan air mata, maka mereka adalah orang-orang ‘nekat’ yang sudah sangat-sangat merugi, karena memang hanya bermaksud ‘menghabiskan hari’ belaka.

Kini, pada saat kalender belum diganti dari Maret ke April, dari April ke Mei, berarti masih ada waktu untuk menyesalinya. Sebelum UN di hadapan kita, maka saatnyalah bersiap diri. Sebagai anak muda, seyogyanya hari-hari memang diisi dengan aktifitas anak muda. Mau jadi anak gaul silahkan, tapi anak gaul yang berakhlak. Mau jadi anak gaul silahkan, tapi sangat paham rumus pitagoras dan integral diferensial. Silahkan jadi anak gaul kalau memang sangat mengerti dengan hukum kekekalan massa, atom, molekul, teori relativitas, energi kinetik, energi potensial, hukum listrik. Boleh gaul kalau sudah fasih menulis surat dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mengerti conversation, present continous atau memahami neraca lajur, demografi dan seterusnya. Percuma jadi anak gaul tapi nggak ngerti dengan vertebrata, omnivora, culex fatigan atau anelida. Anak gaul apaan kalau nggak ngerti dengan demokrasi, trias politika, Maharaja Syailendra, Tanaman Paksa atau Dokoritzu Zyombi Tyosakai.

Masih ada waktu men!

Menjelang UN tiba, isilah dengan mematut-matut diri, sejauh apa kita sudah siap menghadapi pertempuran paling menentukan dalam hidup kita? Inilah penentuan untuk membuktikan bahwa kita bukan anak muda yang lemah yang tak tahu apa-apa. Kita bukan anak muda yang gaul di luar tapi goblok di dalam!

 

Jangan-jangan, Cinta?

Oleh Nurfita Sari X7

Cinta….., Apa itu cinta? Kata itu tersisip di ufuk benakku. Kata itu selalu saja diucapkan banyak pria kepada wanita, apalagi wanita yang ia sukai! Memangnya para pria tersebut mengerti yang namanya cinta? Atau mereka hanya ingin mempermainkan perasaan wanita dengan kata-kata tersebut.

Dan aku yakin memang begitu!!, karna kata-kata tersebit seperti mantera atau segelas anggur yang memabukkan yang bila telah terdengar dan dirasakan akan menyebabkan efek menakutkan, dan tak sedikit pula para wanita terlena dengan kata-kata yang diucapkan dengan begitu mudahnya oleh semua pria, “I love You.”

Dan anehnya, apa sih arti kata tersebut sehingga menyebabkan banyak wanita terhipnotis oleh pria. Bahkan dengan kata-kata itulah para pria mempermainkan perasaan berjuta wanita dan tak sedikit pula pra pria menjadi play boy karna kata-kata tersebut dan dibarengi dengan tampang pas-pasan dan rayuan gombal dengan modal itula para pria menjajakan dirinya unutk menggaet setiap wanita yang ia lihat, dan diantaranya ada juga yang menjadi pria yang tak punya hati yang hanya ingin menyakiti hati setiap wanita yang ia jumpai.

Rasanya jika dipikir-pikir kata-kata tersebut hanya menjadi racun yang mematikan bagi sebagian wanita apalagi bagi wanita yang telah pernah merasakan disakiti hatiya oleh pria yang menjajakan cintanya tersebut dengan mudahnya tanpa tahu arti cinta yang sebenarnya. Sebenarnya apa sih maksud cinta itu yang sesungguhnya? Apakah kata-kata tersebut hanya ada unutk menyakiti hati para wanita atau sebaliknya! Dan atau kata cinta itu ada untuk mengekspresikan dirinya ‘para pria yang memiliki cinta sejati’ unutk dinyatakan kepada wanita yang benar-benar ia sukai?

Mungkin perlu waktu “satu minggu bahkan satu tahun” bagiku unutk memikirkan apa arti cinta itu sebenarnya. Karna aku tak ingin merasakan cinta sesaat yng berakhir menyedihkan, “patah hati”. Dan samapai sekarang aku hanya ingin tahun bagaimana ciri-ciri seorang cowok yang memiliki ketulusan cinta, “cinta sejati” yang mengerti apa arti cinta bagi hidupnya, yang merasakan cinta sebagai bagian hatinya, yang hanya ingin mencinta dengans eorang wanita yang tepat, wanita yang terindah dan menghargai arti cinta bagi pasangannya.

Tetapi sayang, sayang seribu kali sayang. Pria seperti itu kurasa tik ada lagi. Rasanya pria tersebut sudah menghilang dari dunia ini berjuta-juta abad yang lalu yang telah musnah, hancur-lebur bersama makhluk purba lainnya. Dan sekarang semua pria tak mengerti lagi apa artinya cinta, dicintai bahkan unutk mencintai sseorang dengan segenap perasaan, bahkan hati yang ia punya. Aku benci dengan para pria yang tak mengerti lagi apa arti cinta yang sebenarnya. Selama ia bisa mendapatkan siapa saja para wanita yang ia inginkan, ia merasa “PERSETAN DENGAN ARTI CINTA”

Karena pada saat ini para wanita hanya ingin dicintai oleh lelaki, bahkan lelaki buaya yang ingin mempermainkan perasaannya. Aku adalah seseorang yang masih menghargai apa arti cinta yang sebenarnya. Cinta yang akan bernaing dalam diriku, cinta yang tulus dari hti yang terdalam, cinta yang akan selalu ada unutkku dan tak kan punah hingga akhir hayatku tiba. Cinta yang terbaik bagi diriku.

Seandainya cinta itu ada di zaman prasejarah, aku akan rela untuk menjemput cintaku. Aku tak akan biarkan cintaku hilang dan terkubur bersama para dinosaurus. Aku akan rela menjemputnya, aku akan senantiasa menuntunnya, menemaninya dan menjaganya karena dia cintaku. Dan jika saja semua orang masih menjunjung tringgi apa arti cinta yang sebenarnya! “Hidup hanya sekali dan mencintaipun juga sekali”. Aku yakin tak akan ada penderitaan yang tercipta karena patah hati, cemburu, perselingkuhan, bahkan semacamnya.n Karena semua orang rela mengorbankan dirinya unutk menjaga cinta yang ia miliki.

“CINTA SEJATI”

PBM SMAN 8 Lancar

Rabu, 30 Januari 2008
Padang, Padek–Pascademo siswa SMA 8 Padang beberapa waktu lalu, suasana belajar di kompleks sekolah ini terlihat tenang. Sepertinya tidak pernah ada tanda-tanda gejolak apapun  yang menimpa sekolah ini. Ketika Padang Ekspres berkunjung ke sekolah ini kemarin terlihat kegiatan belajar mengajar berlangsung aman dan tenang.

Saat baru sampai di sekolah ini beberapa siswa tengah serius mengikuti pelajaran yang disuguhkan gurunya. Di kelas tiga lainnya juga terlihat siswa yang tampak tegang dalam diskusi pelajarannya. Ada pula kelas yang siswanya bercengkrama satu sama lain dengan gembiranya. Di kelas itu sedang tidak ada guru yang mengajarnya. Pada suatu kesempatan Padang Ekspres bertemu dengan salah seorang siswa kelas 3 (XII),  Dedet.

Ia mengatakan untuk sekarang ini siswa kelas tiga sedang tenang-tenang saja. Karena sehari sebelumnya (Senin, 28/1) telah mendapat pengarahan dari walikelas bahwa untuk biaya belajar sore tidak dipungut biaya. Sehingga Dedet dan temannya yang lain mendapat ketenangan sementara waktu.

Kepala SMA 8 Padang Janawir mengaku senang karena tidak ada lagi gejolak yang terjadi di kalangan siswa.  Ia mengatakan sekolah bersama komite sekolah telah berhasil mencapai kata sepakat untuk meniadakan biaya belajar sore untuk siswa kelas III. Keputusan ini tercapai setelah rapat yang juga disaksikan Camat Koto Tangah. Sehingga dengan cepat sekolah dan komite memberitahukan kabar hasil rapat kepada siswa dan wali kelas.

“Untuk siswa informasi ini diberitahukan melalui pesan singkat (SMS). Seterusnya informasi ini dilengkapi oleh wali kelas di ruang belajar kemarin (Senin 28/1, red). Siswa diberi pemahaman terhadap hal yang sedang dialami sekolah. Terutama dalam hal untuk memajukan fasilitas fisik sekolah dan kemampuan intelektual siswa. Memberikan pembelajaran yang lebih membutuhkan biaya ekstra. Namun tidak disetujui siswa maka sekolah berupaya menghindari hal ini dan memberikan penjelasan,” ujarnya.

Pada tahun ini SMA 8 juga tidak akan melanjutkan pembangunan fisik, karena yang dianggarkan untuk itu tinggi. Sehingga membutuhkan bantuan dari pusat. Belajar dari peristiwa beberapa waktu lalu, Janiwar tidak akan meneruskan programnya ini. “Ini pengalaman yang berharga sekali sejak saya memimpin SMA 8 sejak 8 bulan lalu,” jelasnya. (padek)

Siswa SMA 8 Tuntut Transparansi Keuangan

Selasa, 22 Januari 2008
Active ImagePadang, Padek– Ratusan siswa kelas XII SMA Negeri 8 di Jalan Adinegoro KM 17 melakukan demo, Senin (21/1), sekitar pukul 08.00 WIB, di halaman sekolah mereka. Mereka menuntut transparansi pungutan uang belajar tambahan Rp260 ribu per siswa serta uang SPP dan pembangunan yang juga dipungut sekolah kepada siswa.

Usai melaksanakan upacara bendera di halaman sekolah, ratusan siswa kelas XII tetap berkumpul di halaman. Mereka melakukan orasi dan membentangkan spanduk yang berisikan transparansi pungutan uang belajar tambahan, uang SPP serta uang pembangunan. Dalam orasi  yang diteriaki siswa secara bergantian mengarah ketidaksenangan mereka terhadap kepala sekolah dan ketua komite. ”Saat ini kami mengikuti enam pelajaran tambahan, yakni, Kimia, Fisika, Biologi, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Untuk biaya ini, kami diminta membayar Rp260 ribu. Kami tidak mengetahui perinciannya. Bahkan keputusan rapat komite dengan orangtua kami tentang penetapan biaya ini terkesan dipaksakan.Active Image Hingga kami menolak dan akan mogok belajar hingga tuntutan ini dipenuhi,” kata salah seorang siswa yang minta namanya disembunyikan. Selain dari biaya pelajaran tambahan tersebut, siswa juga menyebutkan uang Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) telah dinaikan dari Rp55 ribu menjadi Rp65 ribu. Kenaikan ini dijanjikan untuk menutupi biaya pelajaran tambahan. Belum lagi uang pembangunan yang terus dipungut setiap tahunnya, namun realisasinya tak jelas.  Ditambah uang denda yang juga dikenakan pada siswa. ”Untuk terlambat dikenakan Rp1.000, untuk sepatu Rp5 ribu, untuk tidak mengikuti Asmaul Husna dikenakan Rp5 ribu. Kemana semua uang denda itu. Hingga kini tak jelas kemana rimbanya,” ungkapnya siswa tersebut.

Termasuk Murah

Kepala Sekolah Djanawir mengatakan biaya tambahan per bidang studi termasuk murah dibandingkan sekolah yang lain. Dimana, kita memungut uang belajar tambahan Rp5 ribu per mata pelajaran. Hingga total perbulannya untuk enam bidang studi mencapai Rp30 ribu. ”Pelajaran tambahan dimulai sejak November lalu, hingga untuk enam bulan ke depan total Rp180 ribu. Sedangkan sisa dana Rp80 ribu lagi, dipergunakan untuk foto, buku kenang-kenangan dan buku sumbangan bagi pustaka. Ketentuan ini telah disepakati dalam rapat Komite Sekolah dengan wali murid, Sabtu (19/1),” jelas Djanawir. Untuk penggunaan uang pembangunan, Djanawir menyebutkan dipergunakan untuk pembangunan lapangan basket dan mushalla. Terkait dengan tuntutan para siswa, Djanawir berketetapan untuk meniadakan pelajaran tambahan. Sedangkan persoalan ini dikembalikan kepada Komite Sekolah. Ketua Komite, Dailani mengaku akan kembali menggelar rapat dengan wali murid terkait kisruh yang telah terjadi. ”Kita harapkan ini dapat selesai secepat mungkin hingga dapat diperoleh kata sepakat,” ujarnya. (padek)

Uang Belajar Tambahan di SMAN 8 Ditinjau Lagi

Rabu, 23 Januari 2008
Active ImagePadang, Padek–Sehari setelah unjuk rasa, siswa kelas XII SMAN 8 Padang, masih belum melakukan aktivitas belajar. Mereka belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan dari Kepala SMA 8, Djanawir dan Ketua Komite, Dailani, terkait transparansi pemungutan belajar tambahan hingga Rp260 ribu.

Guna mengatasi kisruh yang tengah terjadi, pihak sekolah; Komite Sekolah, Camat Kototangah, Syaherman Sikum, Ketua Komisi D bidang Kesra DPRD Kota Padang Syahbuddin BSW dan perwakilan Dinas Pendidikan Kota Padang, Nofezar Muchtar, menggelar rapat di ruang pustaka SMAN 8, kemarin. Sejak pagi harinya, ratusan siswa kelas XII ini menolak masuk ke kelas masing-masing, karena belum mendapatkan penjelasan terkait tuntutan mereka. Selanjutnya, siswa ini mulai berkumpul di halaman sekolah. Namun tak ada lagi usungan poster hingga teriakan terhadap pimpinan SMA 8. Aksi ini juga berakibat terganggunya proses belajar mengajar di kelas lain.

Active Image Rapat membahas tuntutan para siswa, mulai digelar sekitar pukul 10.30 WIB. Dalam rapat wali kelas juga mengeluhkan kondisi yang kini terjadi di SMA 8. Seperti, perencanaan pelajaran tambahan agar lebih dimatangkan, denda siswa agar diserahkan ke kas kelas, pengurangan terhadap kegiatan penunjang. Juga terungkap anggaran yang telah disediakan Komite Sekolah guna membiayai pelajaran tambahan mencapai Rp25 juta. Dari dana tersebut diperkirakan cukup membiayai kegiatan pelajaran tambahan dari November-Januari. Sedangkan sisanya baru dibiayai wali murid. Namun yang terjadi malah sebaliknya, semua siswa diminta membayar dari November hingga enam bulan ke depan mencapai Rp180 ribu per siswa.

Rapat tersebut menghasilkan keputusan untuk mengadakan rapat ulang dengan wali murid guna merumuskan biaya yang seharusnya dikenakan terhadap masing-masing siswa untuk belajar tambahan, Sabtu mendatang. Seusai rapat, hasil ini diberitahukan kepada siswa dan selanjutnya siswa diminta untuk kembali belajar seperti biasa. Seusai memberikan penjelasan kepada siswa, Camat Kototangah Syaherman berharap sekolah lebih transparan dengan keuangan para siswa. ”Kita berharap rapat mendatang bisa memutuskan sesuatu yang memuaskan semua pihak dan menampung aspirasi siswa. Jika tuntutan tersebut berdasar, saya akan perjuangkan jika tidak maka akan saya jelaskan duduk persoalannya kepada siswa,” ujar Syaherman.

Ketua Komisi D DPRD Padang Syahbuddin BSW berharap kisruh yang terjadi kini tidak mengganggu proses belajar mengajar para siswa. Hingga DPRD melalui dirinya berjanji untuk terus mengawasi permasalahan yang terjadi kini. Jika terus berlanjut, Syahbuddin akan meminta Dinas Pendidikan untuk turun tangan menyelesaikan masalah tersebut. Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Nur Amin telah memerintahkan komite untuk berembuk kembali dengan orangtua siswa. Jika memang kondisinya tidak kondusif, sebaiknya diakomidir saja dengan mengurangi mata pelajaran yang diberi jam tambahan. Pembayaran iuran di SMA 8 itu, menurut Nur Amin telah melewati mekanisme yang ada. Memang tidak ada larangan pungutan di SMA, karena tidak mendapatkan dana BOS. Sepengetahuan Nur Amin, berapa jumlah pembayaran iuran belajar tambahan itu telah sesuai dengan kesepakatan orangtua siswa.

Di sekolah tersebut, ulasnya memang jam belajar tambahan hanya diperuntukkan tiga mata pelajaran yang di UN-kan, tetapi akibat keluarnya keputusan baru yang menyatakan mata pelajaran yang di UN-kan bertambah tiga kali, akibatnya mata pelajaran dan jam tambahan belajar juga bertambah, tetapi apabila siswa dan orang tua siswa tidak sepakat, hal itu jangan dipaksakan. Tentunya siswa tersebut harus menerima konsekuensi dari semua itu. (padek)

Demo Siswa SMA 8 ke DPRD Batal

Selasa, 29 Januari 2008
Padang, Padek–Rencana siswa SMA 8 untuk menyampaikan aspirasi ke DPRD dan Dinas Pendidikan Kota Padang yang seyogyanya dilaksanakan kemarin sekitar pukul 13.00 WIB, batal dilaksanakan. Padahal sebelumnya para siswa sudah menyampaikan surat pemberitahuan ke pihak DPRD, dan Dinas Pendidikan. Bahkan selebaran rencana demo tersebut juga diterima media massa.

Batalnya aksi ini menimbulkan berbagai spekulasi, bahkan dari penelusuran koran ini ada kemungkinan batalnya demo karena adanya tekanan dari pihak sekolah. Menurut pengakuan beberapa siswa SMA 8 kepada Padang Ekspres, mereka ditekan guru untuk melakukan aksi. Apalagi mereka akan tamat, hingga tak berani untuk melakukan aksi. “Kami diancam akan dikadukan ke polisi jika berani menggelar aksi. Kemudian ada juga yang mengancam untuk tidak meluluskan teman-teman yang melakukan aksi,” aku siswa yang namanya ada pada redaksi Padang Ekspres.

Akibat ancaman ini, ratusan siswa tersebut menjadi takut dan sebagian besar dari mereka mengurungkan niatnya. Hingga berita ini diturunkan, kejelasan uang tambahan belajar para siswa tidak ada kejelasannya. Kepala Sekolah Djanawir  yang dicoba dihubungi melalui telepon genggamnya 081363304XXX ternyata tak aktif. Hingga tadi malam sampai pukul 21.20 WIB telepon genggam yang bersangkutan masih belum aktif. Ketua Komisi D DPRD Kota Padang Syahbuddin berharap agar kisruh yang terjadi di SMA 8 segera dicarikan jalan keluarnya. “Kita telah turun ke lapangan, kita berharap kondisi ini tidak mengganggu proses belajar mengajar siswa. Bila ini berlanjut kita minta Dinas Pendidikan bisa bersikap tegas.”

Syahbuddin berharap siswa bisa menahan diri dan konsentrasi belajar. Aspirasi yang telah mereka sampaikan akan ditindaklanjuti dan diupayakan adanya putusan terbaik. Di sisi lain pihak sekolah juga harus menahan diri. “Ini hal biasa dalam sebuah perbedaan pendapat. Tetapi jangan sampai proses penyampaian aspirasi diwarnai intimidasi, bila itu terjadi maka sangat tidak mendidik,” terangnya. Sebagaimana yang pernah diwartakan Padang Ekspres, kisruh SMA 8 diawali pemungutan biaya hingga Rp 260 ribu untuk biaya belajar tambahan enam bidang studi selama enam bulan, uang poto dan sumbangan buku ke pustaka. Hingga pada tanggal 21 Januari kemarin, ratusan siswa menggelar mogok belajar. Walaupun pertemuan antara komite sekolah dan walimurid telah digelar Sabtu (27/1) kemarin, namun hingga kini belum ada kejelasan uang yang dipungut. (padek)

Pirates On The Music